Sumber & gambar : Facebook Karina Hakman

Adakah yang pernah merasa stres menjalani perannya sebagai seorang Ibu? Inilah kita, 😊generasi perempuan yang sejak kecil sampai usia 21 tahun atau lebih dididik untuk menjadi wanita karir. 
Satu titik ekstrem zaman dulu adalah perempuan hanya memiliki ruang pada dapur sumur kasur. 

Satu ekstrem yang dibawa sistem pendidikan generasi kita adalah mempersiapkan perempuan untuk menjadi wanita karir, saja. 😊
Sepanjang 16 tahun atau bahkan lebih pendidikan kita, kita tak mengenal kurikulum bagaimana membangun keluarga yang baik.  Tidak ada “kurikulum menjadi istri dan suami”, atau “kurikulum menjadi ayah dan ibu”. 
Hanya sebagian dari kita, 😊 yang beruntung sekali memiliki orang tua yang mengajarkan tentang hal-hal tersebut di rumah. Sebagian yang lain, tidak. 😊 Sehingga mereka tidak kenal dunia anak, dunia manajemen rumah tangga, dunia keluarga. Semuanya sudah terbiasa diurus oleh pembantu, dari mulai mengurus adik, mengatur nutrisi dan pasokan rumah tangga, beserta urusan kenyamanan layak huninya. 😊
Maka jadilah sekarang. Perempuan generasi kita, gelagapan. Terkaget-kaget dengan berbagai rutinitas menjadi seorang ibu yang serba kejutan. Karena membesarkan anak ternyata tidak bisa dijadwalkan seperti saat kita dulu membuat skripsi. Mengatur kurikulum pendidikan anak pun tak sama seperti kita mengatur jadwal kerja atau meeting bersama klien.
Belum lagi dengan kelelahannya. Kita terbiasa lelah berpikir strategis. Berpikir menjawab soal atau menulis esai. Kita terbiasa membuat acara, seminar, menjadi event organiser. Tapi kita tak pernah diajar lelah bagaimana menjaga rumah tetap nyaman, menjaga nutrisi keluarga, mengatur waktu agar semua kebutuhan cinta terpenuhi. 
Kita terbiasa untuk menjaga emosi terhadap sesama rekan kuliah atau menjaga profesionalitas di hadapan rekan satu tim kerja. Tapi kita belum pernah latihan menjaga emosi terhadap anak kecil yang entah maunya apa, atau mainan yang baru saja dibereskan dan dikeluarkan kembali: dilempar, dipukul-pukul, dst. 😊
Inilah kita, generasi 80-90’an, 😊 yang terbiasa hidup di dunia bernama “akademis” dan “kerja kantoran”. 
Menjadi wanita karir bukanlah selalu salah, karena kontribusi perempuan memang selau diperlukan. 
Namun yang menjadi PR kita adalah mengembalikan fitrah kita sebagai suami dan istri, sebagai ayah dan ibu, sejak dini. 
Kita hidup bukan untuk bekerja dan mencari uang. 

Kita mencari uang dan bekerja, untuk hidup, untuk meningkatkan kesejahteraan orang banyak. 
Untuk itulah, kalaulah ada yang membaca tulisan ini, kalaulah Sahabat termasuk yang merasa begitu banyak tantangan menjadi seorang istri dan Ibu, 

percayalah.. 😊 you are not the only one.
Bersabarlah… 😊Masih banyak yang menurut Saya menjadi korban atas “pemerataan sistem pendidikan” yang selama ini kita kenyam ( termasuk Saya). 
Untuk itulah,  Saya sering sangat memaklumi, kalau ada ibu-ibu yang stress dan sangat ripuh meski baru memiliki satu anak.
Bagi Saya, 😊

pemakluman lebih kita perlukan untuk bisa “tetap waras”, tetap “mau” melanjutkan hidup sebagai seorang istri dan Ibu. Ketimbang memilih untuk tidak menikah atau tidak ingin memiliki anak, atau bahkan memilih mengakhiri hidup (sudah ada kasusnya kan dulu? 😊)
Saya yakin dan percaya, 😊 kebanyakan dari perempuan generasi kita sudah sadar, tentang fitrahnya sebagai istri dan ibu. Hanya saja semua itu butuh proses yang tak mudah. 
Tentulah tak mudah, mengubah paradigma dan gaya hidup “wanita karir” yang tertanam selama 20 tahun lebih pada kita, menjadi kembali pada fitrahnya yakni seorang istri dan ibu. 😊

Kontribusi wanita karir akan senantiasa sangat dibutuhkan oleh masyarakat di luaran sana.

Namun menjadi wanita karir yang tetap full time Ibu adalah sesuatu yang generasi kita sedang berusaha untuk wujudkan. Bagi Saya, inilah PR para Ibu generasi kita yang perlu kita wariskan ke generasi di bawah kita.
Dari pengalaman-pengalaman kitalah, dari  jatuh bangunnya kita, para peneliti dan pembelajar nantinya mampu memformulasikan sebuah  impian berjudul “work-life balance”. 😊❤️
Terakhir, Saya hanya berharap,

agar semua Ibu berprestasi di luaran sana,

 yang sedang berjuang mengembalikan fitrahnya sebagai istri dan ibu, 

Allah lapangkan hatinya,

Allah kuatkan jiwa dan raganya, 

untuk menemukan jati dirinya kembali. 
Agar rumah kita menjadi “tempat kerja” kita yang utama, 

Agar mendidik anak menjadi “job desc” kemahiran kita,

dan membangun keluarga menjadi pekerjaan kita sesungguhnya. ❤️ sebelum pekerjaan yang lainnya.. 😊
Allahua’lam bishawab. 

😊
Salam hangat dan cinta, 

untuk ibu-ibu sedunia ❤️

@karinahakman

Advertisements