Kita hidup di zaman dimana jilbab telah menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan sehari-hari. Sangat wajar dan lumrah kita saksikan muslimah berjilbab di segala aktivitasnya. Walaupun tidak punya data resmi, saya rasa banyak yang tidak keberatan jika dikatakan mayoritas muslimah Indonesia saat ini berjilbab.Tapi coba tengok ke belakang di periode sebelum atau awal 90-an. Jilbab di muka umum adalah hal yang tidak biasa apalagi jilbab lebar. Tidak hanya masyarakat, konon pemerintah saat itu juga membatasi /mengintervensi aktivitas pemakai jilbab. Mungkin masih banyak ditemui orang-orang berjilbab di kampung/desa. Itupun, jilbab yang masih transparan dan belum menutup sempurna seperti saat ini (bisa krocek Ibu atau nenek kita masing2). Setahu mereka jilbab ya memang seperti itu.

Adalah tokoh2 seperti Cak Nun dengan kampanye “lautan jilbab” nya, ustdh Yoyoh Yusro (alm) dan aktivis-aktivis waktu itu yang berjuang gigih merubah paradigma masyarakat tentang jilbab. Jika mereka berpendapat Islam adalah warisan, tidak perlu mereka repot-repot berkampanye/berdakwah dari tempat ke tempat, bertahun-tahun, tidak dibayar. Resikonya besar, dijauhi teman, ditentang keluarga, dipandang sinis oleh lingkungan. Belum lagi saat itu belum masuk internet, belum ada web 2.0, sosial media, chat apps atau fasilitas lain yang bisa memudahkan. Kenapa tidak mewarisi saja budaya yang  sudah dijalankan orang tua atau lingkungan mereka yang sudah berjalan lama dan mengakar. Jawabannya tidak lain karena bagi mereka beragama adalah pilihan secara sadar, dan setiap pilihan pasti menuntut pembuktian dan pengorbanan.

Buah dari perjuangan mereka adalah yang bisa kita lihat dan nikmati sekarang. Jilbab menjadi sesuatu yang wajar bahkan dianggap penting, dari yang dulu minoritas sekarang mayoritas, dulu belum sempurna sekarang lebih sempurna. Sebuah contoh beragama yang tidak diwariskan.

Advertisements