​Dalam Islam, syarat seorang Muslim terbebani hukum syariat salah satunya adalah baligh/berakal. Artinya sudah sempurna akalnya. Ini mutlak. Jika syarat itu tidak terpenuhi baik karena faktor usia misalnya masih kecil atau faktor penyakit misalnya sakit jiwa, maka syariat tidak berlaku kepadanya. Contoh lainnya juga jika kita terlewat sholat karena tanpa sengaja tertidur atau lupa maka tidak terhitung dosa, asalkan segera melaksanakannya segera sesaat setelah ingat/bangun. Pointnya, butuh kesadaran penuh dalam menjalankan segala syariat Islam.

Kedua, satu diantara 5 maqasyid syariah adalah hifzul ‘aql. Artinya menjaga akal. Maka dalam syariat Islam ada aturan2 yang ditegakkan demi menjaga kesehatan akal baik berupa larangan atau perintah. misalnya segala yang memabukkan baik jenis khamr atau obat2an, pornografi serta berkhayal adalah dilarang. Hal-hal tersebut dilarang karena bisa mengurangi/merusak fungsi akal. Sebaliknya, Islam memerintahkan umatnya untuk menuntut ilmu, Iqra’, bahkan kata ‘aql dalam Qur’an lebih banyak muncul sebagai kata kerja yang maknanya perintah untuk berfikir, merenung dan aktivitas otak lainnya. Semuanya demi menjaga akal agar tetap dan semakin sehat dengan sering mengasahnya.

Jika Islam adalah doktrin dan warisan, akan sangat kontradiktif jika dua poin diatas justru ada. Sebaliknya, Islam malah mutlak mensyaratkan kesadaran penuh dan kehadiran akal sehat kepada pemeluknya jika ingin menjalankan syariatnya. Maka dari itu, istilah doktrin dan warisan menjadi tidak relevan jika dilabelkan kepada Islam, itu baru dari sisi kedudukan akal, belum tinjauan sejarah dan ilmu lainnya. Tetapi bisa jadi anggapan Islam adalah doktrin dan warisan muncul karena kita sendiri sebagai pemeluknya tidak benar-benar menghayati dan menghadirkan kesadaran penuh saat menjalankan syariat Islam, hanya sekedar ikut-ikutan, pokoknya sudah melakukan, malas belajar dan menggunakan akal untuk memahami makna dan esensi ajarannya lebih dalam. 

Wallahua’lam​.

Advertisements