Banyak orang yang dulu pernah sangat aktif, vokal dan militan dalam perjuangan menjadi ‘hilang’ di suatu titik atau marhalah kehidupannya.

Narasinya tentang segala masalah yang sedang terjadi tak lagi terdengar, semangat bergeraknya tak lagi terlihat dan analisa kritisnya tak lagi tampak. 

Kemanakah mereka?  Mungkinkah mereka sekarang menjadi apatis, tenggelam dengan kehidupannya yang baru dan sudah hilang idealismenya? Jawabannya mungkin saja iya. Tapi bisa juga tidak.

Tak selamanya mereka yang diam adalah karena mereka apatis, oportunis, atau tak lagi idealis. Hanya saja mereka sedang mencari cara lain untuk berkontribusi, lewat jalur senyap, tak terlihat, tak terdengar bahkan mungkin tampak tidak sedang melakukan/memperjuangkan apapun.

Diamnya mereka mungkin seperti diamnya imam Al Ghazali saat umat di zaman beliau sedang rusak dan sakit. Beliau memilih beruzlah memikirkan kurikulum madrasah untuk mempersiapkan generasi selanjutnya. Hasilnya, dua generasi kemudian setelah beliau adalah emas. Generasi Shalahuddin Al Ayyubi.

Cara kerja mereka seperti angin. Tak berisik, membawa serbuk sari menuju putik atau berhembus lembut di siang hari yang gersang dan kering. Tak terlihat tapi menghidupkan dan menyegarkan.

Mungkin mereka juga meneladani nabi Musa, yang terasing menggembala delapan atau sepuluh tahun negeri Madyan sebelum datang risalah berat untuk mendakwahi negeri adidaya beserta pemimpin dan rakyatnya yang dzalim. Juga tentunya, uzlah junjungan kita, Rasulullah SAW sebelum menerima Al Quran dan mendakwahkannya.

Mereka yang seperti itu, ada. Akulah saksinya 🙂

Advertisements