Kebiasaan di sabtu/minggu sore sejak di Jakarta yang cukup istiqomah saya lakukan adalah menghabiskan waktu sore dengan seduhan kopi. Bukan kok, bukan di mall atau cafe yang cozy dan mahal nyaman. Cukup di warkop kecil deket kosan yang bersahaja tapi tetap tenang. Kopinya juga bukan import atau yang namanya ke-latin-latin-an. Cukup kopi tumbuk atau sachet buatan lokal (yang lagi masif iklan di TV) ditemani cemilan gurih.
Sebenarnya, “ritual” ngopi sudah sejak kuliah saya lakukan, cuma tidak rutin karena faktor U (baca:duit). Dulu, biasanya ngopi jika pikiran benar-benar suntuk entah karena faktor kuliah atau kesibukan organisasi. Terutama di semester akhir saat pressure TA dan amanah organisasi sedang tinggi-tingginya. Warkop di keputih gang pasar dekat masjid Muhammadiyah biasanya menjadi tempat favorit, alasannya karena tempatnya tersembunyi, tidak terlalu ramai dan dekat dengan masjid. Saking seringnya Ibu warungnya sampe hafal. Hehe

Me Time

Orang bilang laki-laki itu pada waktu tertentu butuh waktu menyendiri menarik diri dari sekitarnya, sebutannya me time. Saya sepakat dengan teori itu. Saat ngopi biasanya saya bisa memandang segala permasalahan dengan lebih clear, hal-hal rumit biasanya bisa diurai satu persatu saat me time itu. Setelah itu, biasanya pikiran agak sedikit fresh dan tak jarang muncul solusi atau ide atas PR yang sedang dihadapi. Bukan berarti ansos dan tidak kooperatif, cuma tidak bisa dipungkiri kebanyakan laki-laki pasti butuh me time dengan frekuensi yang berbeda-beda 😀

Mood Booster

Jika lazimnya teman-teman cowok saya refreshing dengan hobi mereka yang mainstream macam nge-game, nonton atau jalan-jalan. Entah kenapa hal tersebut tidak cocok untuk saya. Saya lebih suka refreshing dengan ngopi di warung kopi sore hari. Biasanya mood akan menjadi lebih baik setelah “ritual” ini.

Boost Productivity

Saat ngopi, biasanya saya isi dengan kegiatan membaca koran (kalo ada), artikel-artikel atau tulisan penting dan menarik yang sudah di bookmark tapi belum sempat dibaca, juga untuk menuliskan isi pikiran yang baru ditulis dalam bentuk draft. Tak jarang tulisan-tulisan di blog ini ditulis saat sedang menghabiskan waktu di warkop sore hari. Efek caffein bisa membuat konsentrasi meningkat sehingga jadi lebih mudah bernarasi. Selain itu, sebagai tipikal orang yang lumayan suka ngonsep/coret2 sesuatu, waktu ini biasanya juga saya gunakan untuk mematangkan ide atau membuat konsep tentang sesuatu apapun itu.

Jadi, sebenarnya dengan ngopi itu saya bisa jadi lebih produktif walaupun kelihatannya cuma ngabisin waktu saja. Sebagaimana sejarah merekam hakikat dibawanya kopi dari Ethiopia ke Yaman oleh pedagang Muslim abad ke-8, dimana saat itu budaya ngopi telah membantu para ‘abid menegakkan punggung mereka untuk qiyamul lail, serta para ‘alim untuk menjaga mata mereka mengaji ilmu dan berdiskusi. Bahkan menurut situs lostislamichistory, kopi adalah salah satu penemuan umat Islam yang mengubah dunia selain aljabar karya Al khawarizmi dan dasar-dasar ilmu optik yang melahirkan kamera karya Ibnu Haytham. Sayang, saat ini budaya ngopi mulai bergeser ke budaya buang waktu dan perbincangan sia-sia.

“Kopi tanpa narasi hanyalah air berwarna hitam”. (Mas Pepeng)

sumber gambar : Kompasiana

Advertisements