Api yang membakar tubuh nabi Ibrahim telah menyala hebat, Namrud dan kaumnya mengeilingi tungku menyaksikan peristiwa itu terjadi. Jauh dari perhatian orang2 yang menyaksikan, tampak seekor semut sedang sibuk berlarian kesana kemari sambil membawa butiran air di mulutnya. Semut itu pergi ke sumber air, mengambilnya butir demi butir kemudian membawa dengan tubuh mungilnya menuju tungku tempat nabi Ibrahim dibakar. Berulang-ulang dia lakukan tanpa lelah.

Saat seekor gagak datang dan berkata, “Hai semut, apa yang kamu lakukan itu sia-sia”. Semut itu dengan penuh keyakinan menjawab, “mungkin engkau benar usahaku ini sia-sia, tapi setidaknya Allah tahu aku ada di pihak siapa dan aku telah berbuat apa”.

Dari semut kita belajar, pentingnya memiliki sikap dan keberpihakan pada kebaikan dan kebenaran. Dan yang tak kalah penting dari itu adalah aksi nyata atas sikap dan keberpihakan kita.

Advertisements