Ada cerita menarik dari seorang teman, ada 2 orang teman si A dan si B. Si A adalah seorang aktivis sejati semasa di kampus. Berbagai organisasi dan kepanitiaan dia ikuti. Nilai kredit ekstrakulikulernya “cumlaud”, mulai dari staf sampai ketua organisasi pernah dia rasakan. Tapi setelah lulus, bekerja dan berkeluarga. Si A “hilang” dari peredaan. Semangat bergeraknya luntur tergerus dunia baru yang dia rasakan.

Berbeda dengan si A, si B yang semasa kuliah biasa-biasa saja, ikut organisasi cuma 1, itupun cuma sampai staf. acara kepanitiaan pun paling 1 atau 2 saja sewaktu maba. 
Namun ketika lulus, bekerja dan berkeluarga spirit pergerakannya justru tumbuh. Dia aktif bergerak dan menggerakkan para pemuda untuk membantu permasalahan-permasalahan sosial di masyarakat. Apa-apa yg dulu tidak bisa dikerjakan sekarang bisa dia kerjakan. Misalnya, dia dulu tidak bisa ikut organisasi karena harus membagi waktu antara kuliah dan mencari tambahan uang dengan ngelesi. Kini, setelah berkeluarga waktunya jadi lebih banyak dan fokus karena ada istri yg membackup keperluan-keperluan pribadi hingga rumah tangganya. Dulu dia tidak bisa membantu kegiatan-kegiatan sosial karena untuk makan dan bayar kuliah saja pas-pasan, kini setelah berpenghasilan dia royal membantu agenda-agenda sosial.
Ternyata pergerakan independen terhadap sumber daya. Ada yang dulu sumber dayanya pas-pasan tapi mampu bergerak dan menggerakkan tapi ketika sumber dayanya lebih banyak justru semangat bergeraknya hilang. Pun sebaliknya, yang dulu diam karena minim sumber daya, mampu bergerak setelah sumber dayanya lebih baik. 

Spirit dan visi untuk bergeraklah yang mendorong kita untuk tetap bergerak. 

Setiap waktu, marhalah kehidupan kita akan terus naik dan berubah. Mari menemukan spirit untuk tetap bergerak di setiap.marhalah kehidupan dengan cara kita masing2.  

Advertisements