Orang sering salah menempatkan akal/logika dalam beragama. Ada satu kutub yang berpendapat bahwa akal tidak berperan sama sekali, di kutub lainnya berpendapat akal adalah yang paling utama kedudukannya.

Dalam Islam, kedua kutub ekstrim tersebut tidak tepat, Islam tidak meniadakan penggunaan akal/logika dalam beragama, justru menstimulus penggunaannya, sekaligus juga melarang pen-“dewa”-an penggunaan akal. Untuk kasus pertama, bisa kita amati dalam Islam kewajiban besyariat dibebankan hanya kepada mereka yang sudah berakal saja. Adapun anak yang tidak/belum berakal karena sebab usia bebas dari kewajiban syariat, orang yang sudah baligh secara usia namun tidak berakal karena sebab gangguan jiwa atau karena sebab lain semisal mabuk, pingsan dan tidur bebas dari tuntutan syariat. Di zaman khalifah kita juga bisa melihat, bahwa akal dan agama dapat berjalan bersinergi bahkan saling menguatkan membangun peradaban. Di zaman itu, Iptek berkembang dengan pesat melampaui apa yang pernah dicapai oleh peradaban manapun yang pernah ada sebelumnya. Banyak cendekiawan lahir di pusat-pusat kota Islam semisal Baghdad dan Andalusia, dengan fasilitas lengkap dan support penuh dari negara. Islam dan iptek bisa berjalan dengan sangat harmonis tanpa gesekan sebagaimana perselisihan antara gereja dan kaum ilmuan di barat yang melahirkan gerakan Aufklarung.
Di kasus kedua, Islam juga menafikan dominasi penggunaan akal dalam berislam, terutama saat memahami nash Al Quran dan Hadits. Jika ada nash yang “seakan” bertentangan dengan akal atau sebut saja tidak masuk akal, Islam mewajibkan penganutnya untuk meyakini nash itu dan menundukkan akal. Hal tersebut sering terjadi terutama di masa Rasulullah, sebut saja peristiwa Isra’ mi’raj, penjelasan Al Quran tentang alam, penciptaan manusia dsb, yang saat itu sangat tidak bisa dinalar oleh akal. Tetapi, seiring berkembang iptek, apa-apa yang dulu terlihat tidak masuk akal kini satu persatu dapat dibuktikan secara “masuk akal” (empiris), sesuai janji Allah dalam Al Quran.
Lalu dimanakah kedudukan akal dalam Islam? Jawabannya adalah akal berada di bawah nash Al Quran dan Hadits. Atau dengan kata lain, akal adalah sarana untuk memahami dan mengamalkan nash demi tercapainya ketaqwaan kepada Allah SWT. Analogi yang mungkin agak tepat untuk hal ini adalah melihat bagaimana ilmuan fisika menyepakati satuan untuk pengukuran. Sebut saja satuan international untuk massa, yakni kilogram, satu kilogram yang digunakan saat ini adalah berat dari sebuah logam platina iridium yang disimpan di museum di Sevres, Perancis. Semua orang di seluruh dunia jika ingin menimbang kiloan, harus mengacu pada berat logam tersebut. Jika tidak sama, bukan satu kilo namanya dan bukan satuan international tentunya. Lalu, dari manakah ukuran 1 kg itu ditentukan? Jawabannya adalah kesepakatan. Segala sesuatu perlu pijakan, titik tolak atau dasar untuk bisa diukur. Penentuan pijakan, titik tolak atau dasar tersebut seringkali dilakukan dengan kesepakatan bersama. Kemudian digunakan dan diterapkan dalam kehidupan. Begitu juga Allah dalam menurunkan syariat. Untuk menentukan baik dan buruk harus ada ukuran relatif yang menjadi acuannya. Acuan tersebut ya terserah yang membuat karena Dia yang paling tahu ciptaannl-Nya. Diciptakan akal adalah agar kita mampu mengkomparasi, mengukur, memahami dan melaksanakan apa yang Dia perintahkan. Bukan malah untuk membuat aturannya sendiri.
Maka seharusnya, semakin orang menggunakan akalnya semakin dekat dia dengan Allah SWT.

Advertisements