Lanjut dari postingan sebelumnya, setelah kami ishoma dan sedikit streching, akhirnya kami langsung tracking malam itu juga. Jadinya, kami rombongan pickup bersepuluh memutuskan untuk naik bersama. Waktu itu kami naik hari kamis sekitar pukul 20.00 WIB.

Ujian Fisik

Dari sepuluh orang rombonganku yang naik saat itu, bisa dibilang hanya pi’i yang sudah berpengalaman, lainnya hanya pernah sekali atau belum pernah sama sekali mendaki gunung. Bagiku sendiri, itu adalah kali keduaku naik gunung setelah sebelumnya pernah mendaki Semeru tahun 2013 silam.

Kebersamaan kami bersepuluh bertahan kurang dari satu jam saja, ya di satu jam pertama ternyata Merbabu sudah menyambut dengan medan yang cukup menguras tenaga, dari basecamp ke pos pertama memang tidak terjal medannya, namun sepanjang perjalanan kami disuguhi tanjakan yang naik secara konstan walaupun tidak curam. Formasi kami pun mulai berceceran, tidak disangka si pi’i yang sudah sangat berpengalaman pun kuwalahan karena lama tidak naik, aku masih mendingan walaupun ngos-ngosan juga. Seperti yang kami duga dua cewek dirombongan kami yang baru pertama kali naik mengalami kesulitan sehingga agak jauh tertinggal dibelakang kami bersama tiga orang cowok rombongannya, aku masih menjaga jarak dengan pi’i karena kami berdua saling bergantung perbekalan. Tidak disangka dua anak SMA yg bersama kami ternyata yang paling prima fisiknya dari kami, tidak tampak kelelahan di wajah mereka berdua, umur emang ga bisa bohong :D. Akhirnya kami, kami sarankan mereka untuk jalan terlebih dahulu, sedangkan aku pi’i dan syarif (salah seorang rombongan Gresik) bertiga kami berjalan agak santai menyesuaikan fisik kami yang tidak pernah dilatih sebelumnya. 5 orang dari rombongan kami sepertinya masih tertinggal jauh di belakang.

Formasi yang terpecah menjadi tiga tersebut akhirnya bertahan hingga akhir perjalanan. Kami bertiga, berunding untuk memutuskan akan mendirikan di pos keberapa. Akhirnya, kami putuskan untuk mendirikan tenda di pos ketiga yakni di batu tulis. Setelah melewati pos satu, jalan ke pos 2 memang lebih pendek jarak tempuhnya, tetapi medan yang harus kami lalui bertambah berat dengan tanjakan yang banyak dan cukup curam. Setelah berjuang denga sisa-sisa tenaga akhirnya kami sampai di pos 3 sekitar pukul 24:00, walaupun hampir saja putus asa dan ingin mendirikan tenda di pos bayangan. hehe. Akhirnya kami segera mendirikan tenda dan segera beristirahat mengumpulkan energi untuk melanjutkan perjalanan esok hari.

Walaupun agak kurang nyaman karena harus tidur bertiga di tenda berkapsitas 2 orang, saat bangun aku merasa cukup segar dan bugar.

Lesson 1:
Istirahat yang berkualitas akan hadir setelah kerja keras yang panjang dan melelahkan.

IMG_20160506_055620_HDR[1]

IMG_20160506_080059_HDR[1]
Pemandangan di Batu Tulis pagi hari

Pilihan yang Tepat

Menurutku, pilihan untuk mendirikan tenda di batu tulis adalah pilihan yang bijak. Setidaknya untuk orang seperti kami dengan kondisi fisik yang bisa dibilang pas-pasan. Alasannya, batu tulis berada di pertengahan perjalanan kalau kalian naik dari Selo sehingga tidak terlalu jauh dari basecamp Selo maupun puncak Merbabu. Selain itu, kondisi medan yang cukup datar dan luas juga sangat layak untuk digunakan mendirikan tenda, dan yang paling penting. Pemandangan disini cukup bagus, di bukit bagian belakang kita bisa melihat pemandangan gunung Merapi dari lereng hingga puncaknya. Tak heran spot ini menjadi salah satu spot favorit pendaki untuk mendirikan tenda atau hunting foto.

Tips 1:
Batu tulis adalah pilihan yang tepat untuk bermalam bagi pendaki yang naik dari jalur Selo, terutama untuk para pemula. Selain posisi yang strategis, batu tulis juga menyajikan pemandangan yang indah untuk sejenak melepas penat di perjalanan.

Setelah sholat, masak dan sarapan. Kami bertiga menyempatkan sejenak menikmati pemandangan di batu tulis yang sayang jika dilewatkan, selain juga sambil mencari keberadaan rombongan kami yang tercerai berai barangkali mereka juga sudah mendirikan tenda disana;D.

IMG_20160506_073711_HDR[1]
salah satu spot epic untuk hunting foto
IMG_20160506_072033_HDR[1]
pemandangan di batu tulis dengan bacakground gunung Merapi, indah sekali!!

Meneruskan Perjalanan

Setelah makan, menikmati dan mengabadikan pemandangan. Kami bersiap untuk melanjutkan pejalanan menggapai puncak Merbabu. Kami naik pukul 08.00 pagi ketika matahari sedang hangat-hangatnya. Untuk efisiensi, kami naik hanya membawa satu tas 40 liter berisi logistik diperjalanan dan satu matras untuk beristirahat diatas. Barang-barang lainnya, kami tinggal di dalam tenda yang sengaja masih kami biarkan berdiri.

Rute yang akan kami lalui masih cukup panjang dan jauh lebih berat. Kami masih harus naik turun dua puncak curam untuk bisa sampai di puncak tertinggi Merbabu. Perkiraan kami, kami akan sampai diatas siang hari dan akan kembali turun pukul 14:00 WIB.

IMG_20160506_074524_HDR[1]
bukit dibelakang adalah tantangan pertama kami, tanjakan yang sangat curam.

Walaupun berat, pemandangan sepanjang perjalanan sangat mengagumkan dan semakin indah. Gumpalan awan dan pemandangan bukit-bukit hijau menyajikan harmoni yang indah. Worth it lah!

IMG_20160506_092554_HDR[1]
Kalo tidak salah ini spot setelah Sabana I

Setelah batu tulis, dibalik bukit ada pos bernama sabana I dan setelahnya adalah sabana II. Dua pos ini juga menjadi tempat favorit untuk bermalam bagi para pendaki dan pemandangan disini juga sangat bagus. Untuk kamu yang punya fisik lebih ekstra, bisa memilih mendirikan tenda di Sabana I atau II, kondisi tanahnya juga cukup luas dan landai.

IMG_20160506_091251_HDR[1]IMG_20160506_091312_HDR[1]

20160506_082022[1]20160506_082104[1]

Kira-kira begitulah pemandangan yang tersaji disepanjang perjalanan dari batu tulis menuju puncak Merbabu. Semoga bisa sedikit mewakili keindahan Merbabu yang sesungguhnya.

Sesuai perkiraan kami, kami sampai diatas sekitar 12 siang. Merbabu mempunyai 3 puncak, 2 puncak berdekatan yakni kenteng songo di sebelah kanan dan puncak sarif di sebelah kiri. Satunya lagi berada cukup jauh tapi aku lupa namanya. Saat itu, kami memilih ke puncak keteng songo. Bisa dibilang pemandangan di puncak tidak seindah di perjalanan. Namun, tetap saja ada rasa puas dan senang ketika sudah berada diatas.

IMG_20160506_124835_HDR[1]
Pi’i di atas puncak Merbabu

Setelah puas diatas, belum kami memutuskan turun lebih awal dari rencana awal. Sekitar setengah 2. Perjalanan ke bawah lebih ringan dan lebih cepat karena lebih banyak turunannya. Tapi tetap saja, otot paha yang tidak terbiasa dilatih akan terkena imbasnya. Si pi’i menyarankan untuk turun dengan berlari zig-zag agar lebih cepat sampai bawah. Memang, cara ini cukup efektif dan tidak sedikit pendaki yang mempraktikkannya ketika turun. Tetapi, sebaiknya latih dulu otot pahamu sebelum melakukan perjalanan agar dia tidak shock mendapat tekanan yang keras.

Tips 2:
Sebaiknya sebulan atau minimal seminggu sebelum mendaki, persiapkan kondisi fisik misalnya dengan jogging rutin dan juga latih otot-otot terutama otot kaki dengan sit up atau semacamnya agar tidak terjadi cidera saat melakukan pendakian.

Ternyata, teknik turun dengan berlari berefek kurang baik buatku. Memang diperjalanan alhamdulillah tidak terjadi cidera, tapi saat sudah sampai di batu tulis dan saat membokar tenda. Otot pahaku menjadi tegang sehingga agak sulit bagiku untuk melakukan aktivitas.

Kami memutuskan untuk langsung turun setelah ishoma, kalau tidak salah waktu itu kami turun pukul 17:00 lebih, menjelang sholat maghrib. Saat kami turu dari batu tulis, hujan sudah mengguyur beberapa saat. Dengan kondisi kaki yang agak cidera dan medan yang sangat licin ditambah lagi perjalanan malam hari yang gelap, sebenarnya agak riskan bagiku untuk melakukan perjalanan. Tetapi, karena ingin agar ada waktu istirahat lebih banyak, aku paksakan untuk turun hari jumat. Akibatnya, beberapa kali aku harus terjatuh karena otot kakiku tidak bisa menahan badanku. Sepanjang perjalanan aku hanya bisa berdoa memohon keselamatan dan kekuatan kepada Allah. Obat pereda nyeri dan koyo sedikit mengurangi nyeri di kakiku.

Alhamdulillah, akhirnya kami bertiga sampai di basecamp Selo pukul 21:00 WIB dengan selamat. Dengan konsisi fisik yang sudah sangat kelelahan kami putuskan untuk langsung beristirahat di basecamp.

Wait….!

Tunggu.., lalu gimana nasib rombongan kami yang lain? Di perjalanan kami (terutama syarif) sudah berusaha mencari rombongan Gresik tapi tetap saja tidak ketemu. Sedangkan dua anak SMA itu, kami temui mereka saat di sabana I. Mereka sedang dalam perjalanan turun dan kami masih mau naik. Ternyata mereka telah di puncak sejak malam hari, tanpa mendirikan tenda dan herannya mereka juga memutuskan langsung ke basecampa tanpa mendirikan tenda sama sekali. Luar biasa!

Perjalanan Pulang

Setelah beristirahat, pagi harinya kami mulai bersih diri. Aku dan pi’i akan kembali ke Jogja sabtu pagi, sedangkan si Syarif masih galau karena belum bertemu dengan rombongannya. Dia lost contact karena tidak HP nya ada di tas yang di bawa temannya yang hilang. Kami sempat menge-cek ke pos pendaftaran barangkali rombongan mereka sudah turun karena tidak jadi naik, tapi ternyata saat turun kita tidak perlu melapor sehingga kita tidak tahu mereka sudah turun atau masih diatas. Referensi selanjutnya yang paling akurat adalah dengan bertanya sopir yang membawa kami naik. Kata beliau, rombongan kami itu belum terlihat kembali ke basecamp sehingga akhirnya syarif menunggu di basecamp sampai sabtu sore, jika temannya masih belum datang dia asumsikan mereka sudah pulang dan dia akan pulang sendiri. Sedangkan kami berdua turun sabtu pagi menjelang siang karena masih harus melanjutkan perjalanan ke kota asal kami lagi.

Transportasi dari basecamp kebawah lebih mudah karena disana mobil charteran banyak yang mangkal. Mau nyari dadakan juga bisa, seperti kami saat itu. Kami yang cuma berdua gabung dengan rombongan dari Jakarta saat turun ke bawah. Pilihannya juga banyak, bisa elf, pickup atau truk. Kami turun dari basecamp Selo langsung ke terminal Boyolali.

Dari terminal Boyolali, kami melalui rute yang sama seperti saat berangkat. Naik bus jurusan Solo, turun di Kartasura. Kemudian oper lagi bus ke terminal Giwangan Jogja. Akhirnya, aku dan Pi’i berpisah di terminal Giawangan, dia akan ke UGM menjenguk adiknya yang kuliah disana. Sedangkan aku akan menginap di kantor di daerah Sleman.

Selalu ada hikmah dalam perjalanan, dan hikmah yang aku petik dari perjalanan ini adalah

Jika kamu merasa kuat, kaya, berkuasa, cobalah naik gunung. Kamu akan tahu apa yang kamu miliki tidak ada apa-apanya dihadapan Allah. Jika kamu merasa hidupmu susah, sukar dan payah. Cobalah naik gunung, maka kamu akan sadar betapa Allah telah menundukkan segalanya bagimu sehingga kamu bisa melalui hidup dengan banyak sekali kemudahan. #ntms

Sekian..

NB : Di perjalanan pulang ke Jakarta, aku mendapat pesan yang ternyata dari Syarif memberi kabar (sebenrnya minta foto2 diatas sih :v). Katanya, rombongannya ternyata masih diatas dan baru kembali ke basecamp sabtu sore. Mereka menginap di batu tulis dan hanya 2 orang cowok yang sampai ke puncak. Syukurlah, feeling si syarif benar bahwa temannya masih berada diatas.

 

Advertisements