Kali ini aku ingin berbagi tentang perjalanan ku mendaki gunung Merbabu di Boyolali, Jawa Tengah awal Mei 2016 lalu. Awalnya aku memilih gunung di daerah Jawa Barat agar lebih dekat dengan tempat tinggal, tapi rencana tersebut gagal karena persiapan yang mepet. Akhirnya pilihan menghabiskan long weekend jatuh ke gunung Merbabu.

Aku pergi kesana berdua bersama kawan SMA ku yang sudah lama sekali tidak berjumpa, sebut saja pi’i (bukan nama samaran). Saat aku chat untuk menawarkan perjalanan ke Merbabu, tanpa pikir panjang dia menjawab dengan jawaban singkat, “budhal”. Emang ga berubah tuh anak, tapi aku suka dengan orang tipikal bonek seperti dia. pasti enak diajak mbolang. hehe.

Hari H tiba, karena dia dari Surabaya dan aku dari Jakarta, kami janjian bertemu di terminal Giwangan, Yogyakarta. Sebelumnya kami telah membagi tugas untuk peralatan grup, dia bagian pinjam tenda dan aku kebagian membawa alat masak. Aku sudah di Jogja 2 hari sebelum hari H karena kebetulan kantor tempatku bekerja mempunyai kantor cabang disana. Hal itu juga yag membuatku berfikir kalau peralatan masak yang harus aku bawa bisa dipinjam disana. Sebelum aku ke terminal Giwangan, aku googling tempat sewa alat outdood di jogja dan alhamdulillah ada banyak di sekitar UGM dan UNY. Sampai di tempat sewa alat, kejutan terjadi. Ternyata, untuk meminjam alat kita harus meninggalkan KTP sebagai jaminan, ini sudah aku prediksi sebelumnya. Tetapi yang belum aku prediksi adalah KTP yang boleh dijaminkan harus KTP jogja. Bodoh sekali aku, kenapa ga kepikiran ya.

Tips 1 :
Kalau kamu mau naik gunung, jangan pernah berfikir untuk menyewa alat outdoor di luar kota tempat kamu berasal.

karena tidak mungkin kami naik tanpa alat masak, aku memutar otak untuk mencari solusi. Akhirnya aku putuskan membeli kompor butana yang harganya cukup murah. Sekarang tinggal tempat memasaknya, satu set panci yang biasa digunakan untuk camping harganya cukup mahal dan eman juga kalo harus beli. Akhirnya, aku cari toko yang menjual panci kecil, setelah bertanya ternyata di dekat UGM ada minimarket besar (mirota kampus) yang menjual segala macam barang. Kayak sakinahnya ITS lah. Akhirnya panci berukuran kecil berhasil aku dapat, walaupun agak menahan malu karena dilihatin orang-orang karena masuk minimarket dengan tas besar, sepatu gunung dan membawa panci. Setelah peralatan lengkap aku langsung menuju terminal Giwangan menyusul pi’i yang sudah lebih dulu sampai.

Foto (super)minimarket mirota kampus dekat UGM

Rute Perjalanan

Setelah mengisi logistik jasmani dan rohani (sholat) kami melanjutkan perjalanan. Kami berencana naik dari jalur Selo, untuk itu kami harus mencari bus ke Boyolali.

  • Dari terminak giwangan, lanjut perjalanan dengan bus arah Solo, kemudai turun di Kartasura. Perjalanan sekitar 1,5 jam
  • Dari Kartasura, lanjutkan perjalanan dengan bus kecil sampai di perempatan Boyolali (bilang saja ke supirnya mau ke Selo) atau bisa juga turun di terminal Boyolali. Kami memilih turun di perempatan menuju ke Selo yang memakan waktu sekitar setengah jam.
  • Dari perempatan tersebut, kami akan melanjutkan perjalanan ke basecamp Selo dengan bus sesuai info di google. Tapi ternyata bus kesana sangat jarang dan agak susah ditemui. Rombongan lain ternyata menyewa mobil pickup untuk menuju kesana, karena kami cuma berdua opsi sewa pick up menjadi opsi terakhir karena faktor U (baca : duit). Beruntung kami bertemu rombongan dari Gresik beranggotakan 6 orang yang ternyata sedang menunggu pick up yang sudah mereka booking jauh-jauh hari. Karena masih masih ada space kami ditawari oleh mereka untuk join dengan pickup mereka dan kamipun dengan senang hari mengiyakan. Akhirnya kami naik ke Selo dengan pickup 10 orang (rombongan gresik, kamu berdua dan ditambah dua anak SMA dari kebumen yang juga akan naik melalui Selo). Sewa pickup waktu itu adalah 250rb sekali jalan.

Tips 2 :
Jika ingin naik melalui jalur Selo, jika rombongan banyak, sebaiknya sudah booking kendaraan dari perempatan/terminal Boyolali untuk menuju basecamp Selo. Jika sedikit, minimal sudah mencari CP sopir yang menyewakan pickup dan mencari teman rombongan lain untuk patungan sewa pickup karena bus kendaraan umum menuju basecamo selo jarang dan kalau ada tidak sampai basecamp hanya sampai pasar

Saat naik pickup menuju Selo, hari sudah mulai petang sehingga kami tidak terlalu bisa menikmati pemandangan sepanjang perjalanan. Di perjalanan kami disuguhi pemandangan khas pegunungan, lahan hijau, tanaman sayur dan perkampungan warga yang sederhana. Walaupun sebentar, lumayan untuk merefresh mata dari keruwetan dan kebisingan Jakarta.

20160507_074237[1]

20160507_075328[1].jpg
foto sepanjang perjalanan menuju basecamp selo

Kami berangkat dari terminal giwangan sekitar pukul 14.00 dan sampai di basecamp Selo ba’da maghrib. Setelah sampai melakukan registrasi dengan membayar tiket masuk 10 ribu perorang. Ada beberap basecamp Selo dan semuanya kondisinya cukup baik dan fasilitasnya cukup lengkap, kami memilih beristirahat sejenak sambil menyiapkan keberangkatan di basecamp pak Parman. Disana terdapat tempat istirahat untuk membaringkan badan, kamar mandi, tempat sholat, toko dan juga menjual nasi. Harga makanan disana cukup terjangkau, seporsi nasi telur seharga sekitar 15rb plus minum teh manis hangat. Setelah ishoma kami pun bersiap melanjutkan perjalanan.

To be coninued…..

Advertisements