Masih tentang pesan whatsapp kemarin. Pasca terperanga dengan pesan dari LAZNAZ tadi, diperjalanan ke tempat tujuan aku kembali teringat kembali peristiwa 2 tahun lalu saat aku sedang kerja praktek (KP). Kebetulan saat itu, waktu KP ku bertepatan dengan bulan ramadhan. Di suatu kesempatan, aku berbincang dengan salah seorang petinggi di perusahaan tempatku KP. Aku lupa pastinya kami sedang membicarakan apa, tapi yang aku ingat beliau bilang “kalo menjelang bulan puasa, perusahaan-perusahaan itu memang sibuk banget mas”.

Oportunis Mode On

Mereka (perusahaan-perusahaan) meningkatkan produksinya hingga bisa menjadi dua kali lipat produksi normal. Kalo diamati, tidak hanya perusahaan makanan atau pakaian saja sebenarnya yang bertingkah “diatas normal” jika ramadhan datang. Restoran, cafe, frenchise dan lain sebagainya juga biasanya memberikan hal spesial di bulan ramadhan. Promo, paket buka bersama, menu spesial dan lain sebagainya. Mall, pusat perbelanjaan, bank, jasa kredit hingga asuransi pun tak mau kalah “meramaikan” ramadhan dengan aksi mereka.

Aksi para pegiat usaha itu tidak lain karena mereka yakin pasar mereka menjanjikan kesempatan dan peluang yang besar selama bulan ramadhan. Masyarakat yang lebih konsumtif, daya beli masyarakat yang bisa naik 2 kali lipat, adalah peluang yang menggiurkan bagi mereka. Mereka akan memasang target pemasukan tinggi, walaupun harus dengan menambah sift kerja, mengeluarkan biaya pomosi jor-joran dan effort lainnya. Apakah itu salah? tidak juga, selama mereka tidak merugikan pihak lain. Bahkan bagi penganut paham kapitalisme, hal tersebut adalah wajar dan wajib dilakukan. Oportunis, aji mumpung istilahnya.

What Mode are You?

Kalo para pegiat usaha mengaktifkan mode oportunis di bulan ramadhan, aku jadi berfikir mode apa yang aku aktifkan. Kubaca lagi firman tentang puasa.

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah: 183)

Ternyata, puasa ramadhan yang diperintahkan Allah itu adalah untuk orang-orang yang beriman, bukan para pengusaha. Kubaca lagi firman-Nya dan ternyata aku tahu goal puasa di bulan ramadhan itu adalah untuk taqwa, bukan meraup keuntungan materi sebesar-besarnya. Tapi, kenapa aku yang ngakunya beriman masih bersikap normal-normal saja, aku yang katanya pengen jadi orang bertaqwa, effort-nya juga biasa saja. Ternyata, aku belum serius menyambut ramadhan. Ternyata aku belum sepenuhnya sadar akan keistimewaan ramadhan, dan hatiku yang keras belum tergiur janji-janji pahala dan ampunan dari di bulan ramadhan. Akhirnya aku sadar, aku masih mengaktifkan mode lalai dalam diri. Lalai akan Allah dan lalai akan banyak hal.

Astaghfirullah…..

Advertisements