Rangkuman Materi Pertemuan 1, Sekolah Sejarah dan Peradaban Islam

Di masa lalu, tradisi keilmuan masyarakat nusantara sangatlah tinggi. Tradisi keilmuan yang bersumber dari pesantren-pesantren telah melahirkan banyak ulama hebat yang reputasinya tidak sebatas dikenal di kawasan nusantara saja tetapi juga di seluruh dunia. Beberapa diantaranya adalah Syeikh Yasin, beliau adalah ulama asal padang yang namanya mendunia dan menjadi rujukan bagi ahli hadits dari seluruh dunia di abad ke 18. Selain itu, ada juga syeikh At Tirmasyi dari Tremas yang juga telah mendunia. Akan tetapi, tradisi keilmuan yang tinggi itu terputus sejak masuknya kolonialisme. Kolonialisme berhasil melemahkan pesantren sebagai sumber munculnya tradisi keilmuan nusantara. Akibatnya, sejak saat itu, tradisi keilmuan nusantara menurun drastic bahkan hingga saat ini. Sedikit sekali ada ulama besar yang lahir dari Nusantara pasca abad ke 19 hingga 20.

Secara global, tradisi keilmuan Islam sengaja dikaburkan oleh barat melalui sekulerisme. Sekulerisme yang bermula dari barat, awalnya adalah bentuk perlawanan kaum ilmuan terhadap doktrin gereja yang banyak membatasi berkembangnya iptek. Banyak ilmuan-ilmuan yang dihukum jika mereka mempunyai pendapat ilmiah yang bertentangan dengan ajaran gereja. Kondisi tersebut memicu perlawanan dari kaum intelektual yang semakin lama semakin banyak. Kemudian mencapai puncaknya saat kaum intelektual barat berhasil membujuk raja untuk melawan dominasi dan doktrin gereja sehingga peran gereja pun melemah dan terpinggirkan. Sejak saat itu, ilmu pengetahuan dipisahkan sejauh-jauhnya dari dogma agama atau ketuhanan dan bersifat matrealistik semata. Sekulerisme yang awalnya bertujuan untuk melawan gereja berdampak luas hingga mempengaruhi tradisi keilmuan Islam. Tradisi keilmuan Islam dibangun atas dasar nilai-nilai ketuhanan yang bersumber dari Al Quran dan Hadits Nabi Muhammad SAW. Para ilmuan-ilmuan muslim pun banyak yang dikenal ahli di bidang iptek seperti filsafat, astronomi, matematika, kedokteran dll juga sekaligus ahli di bidang ilmu agama seperi tafsir, hadits, fiqih dsb. Agama dan Ilmu pengetahuan tak terpisahkan dalam tradisi keilmuan Islam. Hal tersebut yang kemudian ingin dikaburkan oleh barat melalui paham sekuler mereka.

Sejak peradaban barat mulai bangkit seiring menurunnya peradaban Islam. Jejak-jejak kecemerlangan islam pun mulai dikaburkan oleh mereka. Salah satunya adalah dengan memutar-balikkan sejarah. Sejarah tentang Islam ditulis oleh barat dengan menghilangkan intervensi agama didalamnya. Beberapa cara yang dilakukan adalah dengan memotong peristiwa sejarah yang berisikan tentang kecemerlangan dan kehebatan peradaban muslim. Selain itu, ilmu pengetahuan dan teknologi ditafsirkan secara matrealistik. Misalnya adalah dengan tidak menganggap Rasulullah SAW sebagai nabi, tidak percaya hal ghaib dengan memunculkan teori evolusi darwin dan sebagainya.

Sejarah Islam kemudian dikesankan sebagai peradaban yang lemah, sadis dan tertinggal. Hal tersebut bertujuan agar generasi Islam tidak mengenal kecemerlangan peradaban pendahulu mereka sehingga memunculkan mindset merasa rendah diri dan malu untuk menunjukkan jati diri seorang muslim. Hal tersebut secara nyata terjadi di nusantara. Peran santri dan ulama yang sangat besar dalam melawan kolonialisme tidak diceritakan di kurikulum sejarah di sekolah-sekolah saat ini. Kalaupun ada, kesan matrealistik sangat dominan keberadaannya. Jihad fii sabilillah yang menjadi semangat perlawanan para ulama dan santri dihilangkan dan ditutup-tutupi. Buku-buku tentang sejarah Jawa dan Sumatera yang ditulis oleh orientalis barat seperti Thomas s raffles dan gurgonje mengesankan bahwa sejarah Jawa dan nusantara adalah peradaban Hindu-Budha, bukan peradaban Islam.

Ulama-ulama sekaligus pejuang seperti Pangeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, Teuku Umar, Raden Fatahillah, Ahmad Matulesi dan nama-nama lain yang secara nyata berada dibarisan terdepan dalam memerangi kolianisme dikecilkan perannya bahkan ditenggelamkan dan difitnah agar tak tampak bahwa semangat jihad dan ajaran Islam lah yang mendorong dan memotivasi perjuangan mereka.

Sejarah Islam yang disampaikan dari sudut pandang yang berbeda dan lebih objektif sangat diperlukan untuk membangun kembali peradaban dan tradisi keilmuan Islam. Karena sejarah adalah alat utama untuk proses ideologisasi sekaligus sumber motivasi paling besar untuk membangun kembali peradaban Islam yang pernah Berjaya.

Advertisements