Akhir-akhir ini, istilah Islam Nusantara mulai akrab di telinga kita. Ada yang pro, ada juga yang kontra. Namun, kali ini saya tidak akan membahas pro-kontra tentang islam nusantara karena keterbatasan ilmu dan informasi saya tentang itu. Hal yang menggelitik saya di tengah isu islam nusantara adalah, beberapa kali saya mendengar penjelasan tentang kawan2 yang pro islam nusantara yang bunyinya kurang lebih “Islam nusantara adalah islam yang menggunakan pendekatan budaya dan cara yang santun bukan dengan jalan perang dan kekerasan seperti di timur tengah”.

Komentar semacam itu yang membuat saya agak risih. Mereka yang berpendapat seperti itu seakan-akan skeptis dengan jalan dakwah lewat perang yang ditempuh oleh Rasulullah dan para khalifah. Padahal jalan perang tidak selamanya buruk. Bahkan Al Quran pun memerintahkannya. Namun, kita harus cermat memperhatikan konteks yang menyertai keputusan Rasulullah dan sahabat serta para khalifah islam saat menempuh jalur itu sehingga akan timbul kebijaksanaan ketika kita mengaitkannnya dengan kondisi kekinian.

Perang, menurut Anis Matta dalam bukunya “serial cinta” adalah takdir manusia. Suka atau tidak suka. Perang adalah keniscayaan saat kita ingin mempertahankan apa yang kita cintai. Bedanya hanya dua : siapa musuhmu dan bagaimana caramu melawannya. Siapa musuhmu menentukan untuk siapa kamu berperang. Sedangkan caramu melawan memperlihatkan watakmu dalam berperang. Dalam sejarah peperangan kaum muslimin, jelas kita ketahui motif apa yang meyetir mereka dalam membabat musuh. Cinta. Cinta kepada Allah dan ajarannya yang agung lah yang menjadi bahan bakar pasukan kamu muslimin. Saat cinta menguasai setiap jiwa pasukan muslimin, tidak ada tempat untuk kebencian dan dendam.

Sehingga kita jumpai dalam aturan islam, mereka yang tidak terlibat perang tidak boleh jadi korban : wanita, anak-anak, orang tua, hewan, tumbuhan dan lingkungan.

Sehingga kita ketahui, pasukan islam harus kembali kepada keluarganya maksimal 4 bulan agar kebutuhan biologis tidak tersumbat. Agar tidak timbul sifat sadis. Agar jihad dekat dengan cinta tidak berubah jadi benci.

Sehingga sampailah ke telinga kita, kisah Ali bin Abi Thalib di suatu peperangan. Saat musuh berhasil ia tumbangkan dan tebasan terakhir untuk mengakhiri hidup musuh telah siap diayunkan, tiba-tiba sang musuh yang tak berdaya itu meludah ke muka Ali. Seketika itu pula, Ali membatalkan tebasannya dan menyuruh sahabat lain untuk mengeksekusi si musuh. Alasannya, agar jangan sampai ia mengakhiri hidup si musuh karena rasa marah/benci bukan karena cinta..

Subhanallah….

Perang semacam ini, yang menciptakan kehidupan. Perang semacam ini yang menghentikan perang dengan perang. Sehingga setiap daerah yang ditaklukan kaum muslimin selalu menjadi daerah yang lebih hidup, berkembang dan maju.

Wallahu a’lam bis shawab.

Advertisements