I often make a definition for something. But unfortunately, my definition more often create some constraints to myself indirectly.

Aku sering membuat definisiku sendiri terhadap suatu hal. Tapi seringkali, definisiku itu justru membatasi pengertian sebenarnya dari hal tersebut. Memang benar kata Prof. Shahab bahwa mendefinisikan adalah sebuah pekerjaan yang sangat sulit.

Seperti halnya saat aku mendefinisikan nikmat Allah kepadaku. Secara tidak sadar, aku mendefinisikan nikmat Allah sebagai suatu pemberian yang aku miliki dan bisa aku rasakan manfaatnya. Aku belum menganggap sesuatu itu adalah nikmat sebelum aku benar-benar memilikinya. Hal itu tentu sangat membatasi makna dari nikmat itu sendiri. Bahkan seringkali aku dibuat sedih dan kecewa saat apa yang aku inginkan belum aku miliki walaupun aku sudah seringkali merasakannya.

Tenyata, sumber dari kekecewaan dan rasa kurang puas itu timbul dari diriku sendiri. Aku mencoba meredefinis nikmat Allah menjadi segala pemeberian baik waktu, kesempatan atau materi yang bisa aku rasakan walaupun belum/tidak aku miliki. Dengan begitu, ternyata akan menjadi lebih tenang, syukur dan benar-benar menikmati apa yang aku rasakan tanpa dituntut oleh pikiranku sendiri agar sesuatu itu segera aku miliki.

Aku berfikit tentang contoh sederhananya, aku sering lihat perumahan2 elit di dekat kampus. Tiap rumah pasti punya pembantu rumah tangga atau tukang kebun di dalamnya. Mereka menghuni rumah yang sama dengan fasilitas yang sama seperti yang dirasakan majikannya; AC, lemari es, makanan, TV berlangganan, wifi, dan seperangkat furnitur mewah. Bahkan, mereka lebih banyak merasakan segala fasilitas di rumah itu dari pada pemiliknya yang seringkali berangkat sangat pagi dan pulang malam menjelang tidur.

Jika PRT atau tukang kebun itu, mendefinisikan nikmat sebagai segala yang mereka miliki, maka segala fasilitas mewah dan lengkap yang mereka rasakan tidak akan membekas dan berkesan. Seakan-akan hanya seonggok barang mewah milik orang lain. Itu saja, tidak kurang tidak lebih. Namun, jika mereka mendefinisikan nikmat sebagai segala yang bisa mereka rasakan, maka akan timbul penghayatan yang dalam dan berujung pada rasa syukur dan bahagia. Akhirnya aku puny kesimpulan,

Hati-hati dengan pikiran, karena dari sanalah kebahagiaan atau kesedihan kita ciptakan sendiri. Be positive thinker!

Advertisements