Lebaran/Idul Fitri/riyoyo/bodho selalu menyediakan suasana khas yang tak pernah di jumpai di hari lain dalam setahun. Walaupun ia datang tiap tahun, atmosfernya tak pernah berubah; khusyu’, tenang, tentram, syahdu. Selalu begitu. Semua orang  yang menjumpainya merasa bahagia. Kebahagiaannya independen terhadap waktu (t) dengan korelasi spasial 0 (opoan ae iki). Tak peduli tua atau muda, kaya atau miskin, di desa atau di kota. Semuanya sama. Ada saja semangat dan optimisme baru untuk menyongsongnya. Anak-anak kecil bahagia menanti angpao dari sanak saudara. Para orang tua senang melihat anaknya pulang dari rantuan. Para sesepuh bahagia menunggu kunjungan sanak saudara yang datang berbondong-bondong. Remaja…?? sejujurnya saya bingung apa kebahagiaan para ABG di kala lebaran, tapi setidaknya mereka punya alibi untuk bersalaman dengan gadis-gadis desa. Atau termotivasi untuk bekerja lebih keras agar tahun depan tak berlebaran lagi dengan adik atau orang tua. (bukan curhat)

Riset kecil yang saya dan adik lakukan membuktikan, setiap orang yang kami temui tak ada yang menunjukkan wajah merengut/suram. Semuanya cerah dan bahagia lengkap dengan senyum di bibir mereka. Walaupun orang yang terkenal galak/judes sekalipun. Hipotesis kami, hormon endorphin setiap orang naik di kala lebaran.

Lebaran adalah cara Allah menunjukkan kepada kita hasil akhir jika kita mampu memenangkan diri dari hawa nafsu yang condong mengajak pada kesesatan.

Wallahu a’lam…

Advertisements