This slideshow requires JavaScript.

Diam-diam aku rindu suara adzan khas Pak Kayat yang biasa menyeru kami di waktu shubuh

Diam-diam aku rindu melihat cak Jo dan pak Samsul bangun jam 3 pagi membersihkan lantai masjid.

Diam-diam aku rindu dengan suara Bapak-bapak yang agak canggung mengikuti instruksi ust. Maknun melantunkan lafadz Al Quran di kelas tahsin kamis pagi.

Atau, kesyahduan ngaji tafsir Al Quran di sabtu pagi dari ust. Imamul yang membuat beberapa jamaah mendapatkan sakinah (ketenangan; ngantuk). Atau juga, suara keras pak ustadz yang melembutkan hati di kelas Al Hikam rabu pagi.

Diam-diam aku rindu melihat Pak Rektor dengan surban merah di punggungnya yang tak pernah absen sholat jamaah shubuh plus majelis ilmu di dalamnya. Sampean keren pak 😉

Diam-diam aku rindu, mendengarkan playlist murottal surat Al Insan dari Misyari yang diulang-ulang karena playernya tak sadarkan diri dengan mushaf/buku di tangannya.

Diam-diam aku rindu, melihat sindu ‘mager’ dengan earphone dan tab di tangannya berselancar di dunia maya atau sekedar membaca e-book

Diam-diam aku rindu bercengkrama dengan ibu-ibu yang menyapu halaman manarul tiap senin-sabtu

Diam-diam aku rindu dengan (suasana) halaqah ukhti-ukhti yang melingkar di pagi buta. Luar biasa semangat mereka.

Diam-diam aku rindu dengan forum asistensi Pak Budi di serambimasjid  yang membuat mahasiswanya terpaksa bangun shubuh dan pergi ke masjid.

Diam-diam aku rindu dengan sejuknya udara pagi hasil fotosintesis pohon mangga, flamboyan dan mahoni. Juga suara relaksasi dari kicauan burung-burung yang hidup merdeka di kampus.

Aku rindu dengan kejaiban manarul ilmi di pagi hari….

Advertisements