“Jika kita mau merenung lebih dalam, kita akan tahu bahwa ada alasan Allah mempertemukan kita dengan orang-orang yang kita temui.”

Seperti pertemuanku dengan 2 orang teman seangkatanku. Namanya Frans(pran) dan Juniarto (Jun). Dua orang dengan kepribadian yang berbeda tapi punya sebuah kesamaan yang dari sana aku belajar banyak dari mereka.

Untung saja mereka hidup di kampus, seandainya kau menjumpai mereka di pasar, kau akan mengira mereka adalah preman di pasar itu. Apalagi saat kau berkesempatan berinteraksi lebih jauh dengan berkenalan. Saat mereka mulai menyebutkan nama,dugaanmu akan semakin kuat bahwa mereka benar-benar preman pasar (hehe, sorry bro:D)

Kesamaan sifat yang aku maksud diatas adalah bahwa mereka sama-sama punya hati yang ‘mengkhianati’ wajah dan nama mereka. Dari mereka aku belajar tentang kerendahan hati, totalitas dan rasa memiliki yang tinggi. Itu yang aku simpulkan saat berjuang bersama di masa maba yang penuh intrik dan kosnpirasi 😀

Mereka adalah salah dua orang yang rasa cintanya paling tinggi ke angkatan dan rasa cinta itu diwujudkan dengan totalitas, dedikasi dan perhatian yang luar biasa. Berbeda dengan teman2 lain yang juga penuh dedikasi, dua orang ini sering dianggap remeh oleh yang lain. Maklum mereka berdua koplak kocak dan tidak mempunyai kemampuan verbal yang bagus sehingga kurang  bisa  membual beretorika dengan baik.

Hal itu yang mungkin membuat mereka sering bahkan hampir selalu dapat jobdesc jaga parkir kalo ada event. Namun, pekerjaan itu mereka jalani dengan ikhlas walaupun aku tahu mereka ingin juga sekali-kali merasakan ada di posisi lain. Sampai di tahun kedua pada suatu event angkatan, saat kami sedang break dan bercengkrama santai. Ada salah satu teman melempar girauan. “Jun awakmu iku ket maba sampe saiki pancet ae tugase jogo parkir”. Celetukan itu tentunya disambut tawa teman2 lain. Tapi entah kenapa pikiranku justru menerawang jauh. Membandingkan dedikasi dan semangat mereka dengan apa yang mereka dapatkan saat ini. Timbul rasa iba dan pertanyaan “kenapa kok balasan mereka begini ya Allah?”. Namun, perasaan itu segera ku tepis jauh2. Aku tetap berusaha berprasangka baik kepada Allah.

Ternyata, jawaban akan pertanyaan itu muncul di tahun ketiga. Si Jun Allah berikan kesempatan untuk berkontribusi sebagai Kepala Departemen di BEM Fakultas. Berita itu tentunya cukup membuat kami kaget sekaligus bangga. Sedangkan si Pran Allah berkahi umurnya dengan menceburkannya ke ranah sosial di BPU JMMI dan menghabiskan waktu bersama anak2 dan Ibu-ibu di desa2 binaannya. Hingga di tahun keempat ia diamanahi sebagai direktur disana.

Pelajaran yang saya camkan betul-betul dari mereka adalah saat keikhlasan dan totalitas berpadu dalam amal kita, maka Allah akan sediakan kemuliaan sebagai balasannya. Kemuliaan itu tidak melulu soal kedudukan atau materi, tapi juga kesempatan beramal lebih luas, lebih banyak dan lebih besar dampaknya. Dan untuk menunggu itu terjadi, hiasi diri kita dengan kerendahan hati dan kesabaran.

Suwun pelajarane bro… ;))

Advertisements