Pada awalnya saya merasa  ganjil tema dengan khotib terlihat tidak cocok. Pak Kiyai yang bertugas saat itu terlihat seperti para Kiyai di kampung dengan surban hijau dan jubah putih yang biasanya lebih concern pada isu-isu Islam yang pokok macam Aqidah, Fiqih dan semacamnya. “Apa tahu pak Kiyai ini tentang isu Ghazwul Fikr” begitu gumam saya dalam hati (Astaghfirulah.. semoga Allah mengampuni suudzon saya). Diawal khutbah masih terlihat biasa-biasa saja. Tapi lama kelamaan, JEDARRR luar biasa wawasan kontemporer Pak Kiyai ini. saya menjadi semakin antusis dengan ceramahnya. Begini kurang lebih (banyak kurangnya sih sebenernya) isi khutbahnya.

Diawal abad ke 21 dan akhir abad 20, dua kekuatan ideologi yang menguasai dan mendominasi dunia ini adalah Liberalisme dan Komunisme. Libaralisme direpresentasikan oleh Amerika dan sekutunya sementara Komunisme diwakili oleh Uni Soviet. Dua ideologi ini bersaing untuk menyebarkan dan mempertahankan pahamnya ke  seluruh dunia. Praktik perseturuan keduanya berupa perang secara fisik maupun mental (Adu kekuatan).

Sejak kekuatan Uni Soviet mulai melemah pada dekade 60an, praktis yang menjadi lawan dan ancaman bagi liberalisme adalah ideologi Islam. Islam dengan sistemnya yang bertentangan dengan paham liberal muncul sebagai kekuatan yang mengancam eksistensi liberalisme. Tak ayal, kaum liberal segera mengatur strategi untuk melemahkan Islam.

Gimana Caranya?

Cara yang ditempuh untuk mengalahkan Islam bukan lewat perang namun dengan cara merusak reputasi Islam melalui perusakan image. Hal yang berusaha dirusak reputasinya dari Islam adalah konsep jihad, jamaah dan Khilafah. Tiga konsep inilah yang sebenarnya menjadi potensi bagi umat Islam.

Jika umat Islam paham dengan konsep JIHAD, maka tidak ada umat Islam yang ditindas sebagaimana yang terjadi di zaman sahabat serta khalifah semisal Umar Bin Abdul Aziz, Sultan Al Fatih atau sultan Shlahuddin Al Ayyubi. Saat semangat jihad ini tertanam dengan baik dan benar pada diri kaum muslimin maka mereka akan menjadi kekuatan yang hebat dan tak terkalahkan. Itulah yang dikhawatirkan oleh para kaum liberalis. Akhirnya, dibuatlah skenario agar kata JIHAD menjadi suatu hal yang menyeramkan, kejam, sadis dan antiperdamaian. Isu-isu terorisme dimunculkan dan dibuatlah kesan para teroris itu mereka yang berjenggot, islamnya taat dsb. Akhirnya, masyarakat bahkan umat muslim sendiri termakan isu ini, mereka merasa takut dan benci dengan kata JIHAD, takut belajar islam terlalu dalam, takut dengan orang yang berjenggot, yang sering ke masjid dan sebagainya. Rusaklah image JIHAD di masyarakat.

Kedua adalah JAMAAH. Islam adalah agama terbesar kedua di dunia. Perkembangan islam dari tahun ke tahun pun sangat pesat bahkan yang paling cepat di dunia. Jumlah yang sangat besar itulah yang menjadi kekuatan tersendiri bagi umat Islam. Jika mereka bersatu menjadi sebuah JAMAAH, maka sudah pasti mereka akan menjadi kekuatan yang tak terkelahkan. Akhirnya, dibuatlah umat islam ini terpecah belah. Saling menyerang sesama muslim, dimunculkan aliran-aliran sesat seperti Ahmadiyah, syiah dan lainnya untuk menyulut pertikaian antar umat sendiri. Dan kita lihat cara ini berhasil, di negara sendiri persatuan umat muslim sangat sulit rasanya untuk dicapai. Semua orang memperjuangkan kelompok dan golongannya masing-masing.
Ketiga adalah KHILAFAH, konsep KHILAFAH disadari oleh para liberalis sebagai sebuah sistem yang sangat mengancam konsep kebebasan ala liberal. Dibuatlah kesan KHILAFAH sebagai sebuah tatanan kehidupan yang kejam, yang ditonjolkan adalah hukum rajam, potong tangan dan hukuman mati. Padahal KHILAFAH mengatur semua tatanan kehidupan baik ekonomi, hukum, sosial maupun politik. Dan isu yang dimunculkan adalah apa yang sedang heboh belakangan ini yakni ISIS. ISIS yang mendeklarasikan negara khilafah menampakkan praktik-praktik kekejaman seperti pembantaian, pemenggalan leher dan kekejaman-kekejaman lainnya. Dan lagi-lagi cara tersebut sukses besar meruntuhkan/menjatuhkan image KHILAFAH dimata dunia termasuk para kaum muslimin juga.

Jangan dikira terorisme, aliran sesat, aliran garis keras , ISIS tadi muncul murni dari kaum muslimin sendiri. Ada indikasi kuat bahwa isu-isu terorisme, aliran sesat ISIS adalah settingan barat dalam rangka melemahkan Islam itu tadi.

Apa yang harus dilakukan?

Ini adalah poin penting dan sering dilupakan dalam menyikapi isu Ghazwul Fikr. Sekarang banyak orang yang semangat mendalami isu-isu perang pemikiran, teori konspirasi dan semacamnya lewat seminar-seminar, buku dl. Namun melupakan hal pokok dari itu semua yaitu bagaimana mementengi diri sendiri dan umat agar tidak termakan isu ini. cara yang bisa ditempuh ada 3 poin yaitu dengan Moral Force, Tzkiyatun Nafs dan Berkumpul dengan orang-orang sholeh.

Moral Force

Di masyarakat sekarang ini mencari orang yang peduli dengan umat dan lingkungannya sangatlah susah. Para mahasiswa yang mempunyai peran untuk mencerdaskan umat sudah terlena dan menjadi egois hanya memikirkan kepentingan dan masa depannya sendiri. Tidak ada semangat Anfauhum linnas (bermanfaat untuk sesama). Kuliah hanya mengejar gelar, pekerjaan yang mapan, gaji besar dan hidup enak. Mereka lupa dengan umat, mereka lupa dengan masyarakat denga segala masalahnya sehingga fungsi pencerdasan dan keteladanan tidak ada di masyarakat. Maka dari itu, semangat Anfauhum linnas harus tertanam pada jiwa para pemuda terutama mahasiswa muslim agar mampu mengatasi masalah Ghazwul Fikr ini.

Tazkiyatun Nafs

Lemahnya kaum muslim dalam menghadapi Ghazwul FIkr bukan disebabkan minimnya pengetahuan terhadap agama maupun. Namun disebabkan tidak adanya kemauan dan kemampuan melaksanakan apa yang diketahuinya. Ilmu pengetahuan itu tidak bisa menggerakkan orang melakukan kebaikan, tapi hati yang bersihlah yang mampu melakukannya. Kita tahu, dokter adalah orang yang paling tahu ilmu tentang bahaya merokok namun masih banyak dokter yang merokok. Para ulama juga demikian, masih banyak ulama yang melanggar larangan-larangan agama walaupun ilmunya sudah tinggi. Maka dari itu, hati yang bersihlah kunci untuk melakukan kebaikan. Cara untuk Tazkiyatun Nafs adalah dengan sabar dan sholat. Sabar diwujudkan dengan memperbanyak puasa sunnah sedangkan sholat disini tidak hanya sholat wajib tapi Qiyamul lail yang harus diperbanyak untuk mendapatkan hati yang bersih.

Berkumpul dengan orang-orang sholeh

“orang yang berteman dengan penjual minyak wangi maka akan terkeni bau wanginya. Sedangkan orang yang berteman pandai besi maka akan mendapatkan bau hangusnya.” Mungkin itulah gambaran daripoin ketiga ini. Berkumpul bersama dengan lingkungan yang baik akan membuat kita menjadi hamba yang istiqomah di jalan Nya. Maka dari itu, perhatikan temanmu.

Diangkuman dari khutbah jumat tanggal 12 September 2014 di Masjid Manarul Ilmi ITS. Semoga bermanfaat.

Advertisements